MAKALAH
“PERSFEKTIF
FILSAFAT NILAI-NILAI DALAM OLAHRAGA”
AGUNG WIJAYA BUDIMAN
181050401104
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA
PROGRAM
PASCASARJANA UNM
2018
KATA PENGANTAR
Puji dan
Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini. Salawat dan
salam dihaturkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW atas perjuangan beliau
kita dapat menikmati pencerahan iman dan islam dalam mengarungi samudera
kehidupan ini. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai “Persfektif Filsafat Nilai-Nilai Dalam Olahraga ” dalam
rangka memenuhi tugas UTS mata kuliah Filsafat
Ilmu.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Kami
menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh
karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang
dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan
untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Makassar, 25 Oktober 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
SAMPUL........................................................................................................... i
KATA
PENGANTAR............................................................................................................ ii
DAFTAR
ISI.......................................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN..................................................................................................... 1
1.1 Latar
Belakang............................................................................................................ 1
1.2 Rumusan
Masalah....................................................................................................... 2
1.3 Tujuan.......................................................................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN....................................................................................................... 3
2.1 Nilai-Nilai Esensial Dalam Olahraga........................................................................... 3
2.2 Peran Pendidikan Jasmani Dalam Internalisasi Nilai-Nilai Dalam Olahraga.............. 7
2.3 Strategi Internalisasi Nilai Olahraga Melalui Pembelajaran....................................... 10
BAB III PENUTUP.............................................................................................................. 15
3.1 Kesimpulan................................................................................................................. 15
3.2 Saran........................................................................................................................... 15
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................................ 16
HALAMAN
SAMPUL........................................................................................................... i
KATA
PENGANTAR............................................................................................................ ii
DAFTAR
ISI.......................................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN..................................................................................................... 1
A. Latar
Belakang............................................................................................................ 1
B. Rumusan
Masalah....................................................................................................... 1
C. Tujuan.......................................................................................................................... 1
BAB
II PEMBAHASAN....................................................................................................... 2
A.
Hakikat olahraga dan hakikat nilai.............................................................................. 2
B.
Nilai-nilai dalam olahraga............................................................................................ 3
C. Nilai-nilai luhur olahraga............................................................................................. 6
BAB III PENUTUP............................................................................................................... 8
A. Kesimpulan.................................................................................................................. 8
B. Saran............................................................................................................................ 8
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................................. 9
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Olahraga
memiliki potensi untuk membangun karakter bangsa dengan amat baik namun disisi
lain juga menimbulkan dampak yang tidak diinginkan sehingga meresahkan
masyarakat. Nilai kompetitif dalam olahraga sering membuat orang melakukan
perilaku yang kurang terpuji. Yang terjadi belakangan ini media massa dan media
sosial lebih menonjolkan sisi-sisi negatif yang terjadi dalam pertandingan
olahraga sehingga cenderung menciptakan keresahan.
Insiden
memalukan yang disoroti oleh media nasional maupun internasional terjadi pada
laga PSS Sleman kontra PSIS Semarang di kompetisi Divisi Utama benar-benar
mencoreng nama Indonesia di muka dunia. Media-media asing kini ramai
mempublikasikan pertandingan Sepak Bola Gajah tersebut. Insiden memalukan
tersebut terjadi pada Minggu 26 Oktober 2014, saat PSS Sleman menjamu PSIS
Semarang pada laga pamungkas Grup N babak 8 besar Divisi Utama di Stadion
Kompleks Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta. Dalam laga tersebut, kedua
tim menciptakan lima gol yang kesemuanya terjadi lewat bunuh diri. Mereka
diduga sengaja melakukan tindakan yang mencoreng nilai sportivitas tersebut
lantaran ingin menghindari Borneo FC yang digadang-gadang sebagai tim terkuat
di Divisi Utama (Metronews, Jakarta, 29 Oktober 2014).
Insiden
di atas hanyalah satu contoh dari sejumlah insiden olahraga yang terjadi di
Indonesia. Sederetan distorsi olahraga terjadi akibat kurangnya implementasi
nilai-nilai olahraga sangat memprihatinkan. Nilai-nilai olahraga seperti
antusis, sportivitas, tanggungjawab, peduli, jujur, fair play, disiplin,
kerjasamamerupakan indikator luhur yang dapat melahirkan prestasi yang diiringi
sikap-sikap dan mental yang baik pula. Jika semua itu diterapkan maka pelaku
olahraga akan menjadi figur panutan, menang dengan sportif, menang dengan
jujur, menang dengan keunggulan, dan dapat menerima kekalahan dengan terhormat.
Semua nilai-nilai olahraga tersebut harus diterapkan oleh pelaku olahraga namun
dalam kenyataan masih jauh dari harapan.
Distorsi
olahraga yang terjadi telah mengakibatkan prestasi olahraga Indonesia semakin
terpuruk. Oleh karena itu, Indonesia pada saat ini membutuhkan olahragawan yang
memiliki mental dan kepribadian yang tangguh, penuh percaya diri, berani
bertindak, dalam mengambil prakarsa, sehat, berkemampuan jasmani yang optimal,
memiliki pikiran dan tindakan untuk setiap saat berjuang dalam mewujudkan
prestasi olahraga yang tinggi. Siedentop (1994: 128) menjelaskan bahwa olahraga
adalah panggung tempat proses pembelajaran gerak yang merupakan salah satu
dimensi perilaku yang sangat penting, karena berkaitan dengan aktivitas manusia
setiap hari, bersifat alamiah, nyata dan juga logis serta merangkum tidak hanya
peristiwa jasmaniah semata, namun juga proses moral, mental dan sosial.
Begitu
pentingnya nilai-nilai olahraga maka banyak pihak menaruh harapan kepada
pendidikan jasmani, meskipun dengan pendidikan jasmani memang tidak serta merta
sejumlah persoalan di atas akan terselesaikan, akan tetapi melalui pendidikan
jasmani banyak hal yang bisa diajarkan. Misalnya, terkait dengan nilai antusis,
sportivitas, tanggungjawab, peduli, jujur, fair play, disiplin,
kerjasama yang kesemuanya merupakan prasarat dasar mewujudkan masyarakat madani
(civil society). Melalui pendidikan jasmani nilai-nilai olahraga
tersebut dapat diinternalisasikan secara nyata dalam praktek sehari-hari.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Apa saja nilai-nilai esensial yang
terkandung dalam olahraga ?
2.
Bagaimana
peran pendidikan jasmani dalam
internalisasi nilai-nilai olahraga ?
3. Bagaimana
strategi internalisasi nilai olahraga melalui pembelajaran ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui nilai-nilai
esensial yang terkandung dalam olahraga
2. Untuk mengetahui peran pendidikan jasmani dalam internalisasi
nilai-nilai olahraga
3. Untuk mengetahui strategi internalisasi nilai olahraga melalui
pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Nilai-nilai Esensial dalam Olahraga
Nilai-nilai
olahraga sangatlah penting untuk dihormati dan diterapkan seperti diungkapkan
oleh Coubertain(dalam buku The Olympic Games XIX: 2002): 'the
important thing in life is not victory, but the fight; the main thing is not to
have won, but to have fought well.' Ungkapan yang disampaikan
dalam pidato pembukaan Olympic Games XIX tahun 2002 ini mengandung makna bahwa
kemenangan itu bukanlah merupakan tujuan utama dalam kehidupan, namun yang
terpenting adalah berjuang untuk mencapai kemenangan dengan baik. Perjuangan
mencapai kemenangan dengan cara yang baik harus menerapkan nilai-nilai olahraga
yang amat luhur.
Coubertin(dalam
buku The Olympic Games XIX: 2002)mengungkapkan `the fundamental values
of Olympism have the same meaning for every human being hoping to fulfil their
ambitions to build a better world. Those values are the search for
excellence, fairplay, the joy of effort, respect for others and harmony between
body and mind`. Nilai-nilai fundamental dalam Olympic Games memiliki
makna yang sama bagi semua orang yang mengharapkan ambisi yang sama untuk
membangun dunia menjadi baik. Nilai-nilai tersebut meliputi mencari
keunggulan, fairplay, kegembiraan dalam berusaha, hormat tehadap
orang lain, dan keharmonisan antara tubuh dan fikiran.
Dalam
buku kurikulum pendidikan jasmani Australia yang dikeluarkan oleh Commenwealth
of Australia tahun 2006, pendidikan jasmani melibatkan penanaman nilai-nilai
meliputi: Care and compassion, Doing your best, Fair go, Honesty,
Integrity, Respect, Responsibility, Understanding, Inclusion and Tolerance.Siswa
dididik untuk menerapkan nilai-nilai peduli dan penuh sayang, melakukan yang
terbaik, bertindak adil, jujur, integritas, hormat, tanggungjawab, pengertian,
inklusi dan toleransi. Satu nilai yang jarang dijumpai di negara lain yaitu
nilai inklusi. Nilai inklusi digunakan sebagai sebuah pendekatan untuk
membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yang semakin terbuka; mengajak
masuk dan mengikutsertakan semua orang dengan berbagai perbedaan latar
belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya.
Nilai inklusi dalam pendidikan jasmani menekankan bahwa semua orang berhak melakukan
aktivitas olahraga baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat dengan rasa
aman dan nyaman. Sekolah harus memberikan fasilitas yang terbuka, ramah,
meniadakan hambatan dan menyenangkan bagi siswa tanpa terkecuali dan merangkul
setiap perbedaan.
Dalam
Olympic Games ada tiga nilai olahraga fundamental yang difokuskan yaitu: excellence,
friendship, and respect(keunggulan, persahabatan, dan respek).
Excellence(keunggulan) menggambarkan kualitas usaha untuk mencapai prestasi.
Hal ini juga mengandung harapan bahwa atlet harus mandiri, seperti yang
tersurat dalam moto Olimpade yaitu Citius, Altius, Fortius(Faster,
Higher, Stronger) atau lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Nilai
keunggulan mengacu pada perjuangan untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal yang
dilakukan, sebagai individu dan sebagai kelompok kerja menuju tujuan bersama.
Dalam mengejar dan mengukur keunggulan, atlet secara alami akan membandingkan
upaya mereka untuk orang lain. Tapi barometer utama keunggulan adalah
pencapaian tujuan pribadi seseorang.
Friendship(persahabatan) Nilai persahabatan
penting dalam tradisi Olimpiade kuno dan merujuk untuk membangun dunia yang
damai dan lebih baik melalui olahraga. Para atlet mengungkapkan nilai ini
dengan membentuk ikatan seumur hidup dengan rekan tim mereka, serta lawan-lawan
mereka. Nilai persahabatan bersifat humanistik yang bertujuan memberikan
bantuan kemanusiaan, mengembangkan program budaya dan pendidikan, dan mendorong
dialog terbuka pada olahraga dan perdamaian.
Respect(respek)
adalah moral yang mendasari olahraga dan prinsip etika yang harus menginspirasi
semua orang yang berpartisipasi. Nilai universal hormat mengacu menghormati
untuk diri kita sendiri, satu sama lain, untuk aturan, untuk fair play dan
bagi lingkungan.
Lickona
dalam karyanya Educating for Character (1992) menyatakan bahwa
individu dikatakan berkarakter apabila memiliki tiga komponen kakarter
yaitu moral knowing(pengetahuan moral), moral feeling(perasaan
tentang moral), dan moral action(perbuatan bermoral). Ketiga komponen
ini sangat penting, dan satu sama lain tidak terpisahkan dalam membentuk watak
dan melaksanakan kebajikan. Lebih rinci Rusli Lutan (2001: 82) menjelaskan
bahwa pada komponen pengetahuan moral terdapat unsur kesadaran moral,
pengetahuan tentang nilai moral, perhitungan ke depan, pertimbangan moral, dan
pembuatan keputusan. Komponen perasaan moral meliputi kesadaran hati
nurani, self-esteem, empati, kecintaan terhadap yang baik,
pengendalian diri. Sedangkan tindakan moral adalah kompetensi, kemauan, dan kebiasaan.
Seseorang dikatakan berkarakter baik, apabila ketiga komponen tersebut telah
menyatu, melekat, dan saling mempengaruhi. Namun tidak berarti bahwa individu
yang telah mengetahui kebaikan dan keburukan otomatis berbuat baik, dan
tidaklah pula berarti bahwa dia mampu berempati atau mengendalikan diri untuk
melakukan tindakan moral. Tidak cukup dengan itu, maka karakter yang baik harus
diajarkan melalui proses pendidikan, pemodelan dan pembiasaan yang secara terus
menerus dan sistematis. Dalam olahraga proses pebentukan karakter tersebut
terkait dengan istilah empat kebajikan yaitu: compassion, fairness,
sportpersonship, dan integrity.
Aktivitas
olahraga sungguh syarat dengan nilai-nilai pendidikan seperti kejujuran,
sportivitas, disiplin, dan tanggung jawab. Bahkan, ada ungkapan yang sudah
menjadi keyakinan sejarah dari waktu ke waktu: Sport builds character (Maksum,
2005; 2002). Ungkapan sport builds character menekankan
pentingnya olahraga sebagai media pembentukan karakter. Selanjutnya Maksum
menjelaskan indikator nilai-nilai olahraga seperti pada Tabel 1 di bawah ini:
Tabel 1. Indikator Nilai-nilai
Olahraga
|
Nilai Moral
|
Praktek
dalam Olahraga
|
Praktek dalam Kehidupan
|
|
Respek
|
Hormat pada aturan main dan
tradisi Hormat pada lawan dan offisial Hormat pada kemenangan dan kekalahan
|
Hormat pada orang lain
Hormat pada hak milik orang lain
Hormat pada lingkungan dan dirinya
|
|
Tanggung jawab
|
Kesiapan diri melakukan sesuatu
Disiplin dalam latihan dan bertanding Kooperatif dengan sesama pemain
|
Memenuhi kewajiban
Dapat dipercaya
Pengendalian diri
|
|
Peduli
|
Membantu teman agar bermain baik
Membantu teman yang bermasalah Murah pujian, kikir kritik Bermain untuk tim,
bukan diri sendiri
|
Menaruh empati
Pemaaf
Mendahulukan kepentingan yang
lebih besar
|
|
Jujur
|
Patuh pada aturan main Loyal pada
tim Mengakui kesalahan
|
Memiliki integritas
Terpercaya Melakukan sesuatu
dengan baik
|
|
Fair
|
Adil pada semua pemain termasuk
yang berbeda Memberikan kesempatan kepada pemain lain
|
Mengikuti aturan
Toleran pada orang lain
Kesediaan berbagi
Tidak mengambil keuntungan dari
kesulitan orang lain
|
|
Beradab
|
Menjadi contoh/model Mendorong
perilaku baik Berusaha meraih keunggulan
|
Mematuhi hukum dan aturan
Terdidik Bermanfaat bagi orang
lain
|
Sumber : Maksum (2005)
Maksum
menjelaskan makna ke enam nilai tersebut sebagai berikut:
a.
Respek
Respek adalah suatu sikap yang
menaruh perhatian kepada orang lain dan memperlakukannya secara hormat.
Sikap respek antara lain dicirikan dengan memperlakukan orang lain sebagai mana
individu ingin diperlakukan; berbicara dengan sopan kepada siapa pun;
menghormati aturan yang ada dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.
b.
Tanggung
jawab
Tanggung jawab adalah kemampuan
untuk memberikan respons, tanggapan, atau reaksi secara cakap. Tanggung jawab
dicirikan antara lain dengan melakukan apa yang telah disepakati dengan
sungguh-sungguh; mengakui kesalahan yang dilakukan tanpa alasan; memberikan yang
terbaik atas apa yang dilakukan.
c. Peduli
Peduli adalah kesediaan untuk
memberikan perhatian dan kasih sayang kepada sesama. Peduli antara lain
ditandai dengan memperlakukan orang lain, diri, dan sesuatu dengan kasih
sayang; memperhatikan dan mendengarkan orang lain secara seksama; menangani
sesuatu dengan hati-hati.
d.
Jujur
Jujur adalah suatu sikap terbuka,
dapat dipercaya, dan apa adanya. Sikap jujur antara lain ditandai dengan
mengatakan apa adanya, menepati janji, mengakui kesalahan, menolak berbohong, menipu,
dan mencuri.
e.
Fair
Fair adalah bersikap adil dalam
melakukan dan memperlakukan sesuatu. Sikap fair antara lain ditandai dengan
menegakkan hak sesama termasuk dirinya, mau menerima kesalahan dan menanggung
resikonya, menolak berprasangka.
f.
Beradab
Beradab adalah sikap dasar yang
diperlukan dalam bermasyarakat yang berintikan pada kesopanan, keteraturan, dan
kebaikan. Beradab antara lain dicirikan dengan menempatkan sesuatu pada
tempatnya; mengapresiasi terhadap keteraturan.
Dari penjelasan di atas
nyata bahwa nilai-nilai olahraga bersifat universal sehingga harus dimiliki
oleh semua pelaku olahraga baik atlet, ofisial, maupun semua stake holders yang
terlibat dalam kegiatan olahraga. Begitu pentingnya nilai-nilai ini di mata
dunia namun dalam kenyataan masih banyak pelaku olahraga yang belum
memilikinya. Oleh karena itu guru pendidikan jasmani di sekolah hendaknya
mengambil peran yang nyata dalam melakukan internalisasi nilai-nilai olah raga
melalui proses pembelajaran.
2.2 Peran Pendidikan Jasmani dalam
Internalisasi Nilai-nilai Olahraga
Pendidikan
jasmani olahraga sangat signifikan untuk menanamkan nilai-nilai olahraga.
Proses pembelajaran pendidikan jasmani olahraga harusmemperhatikan kebermaknaan
dalam belajar, artinya apa yang bermakna bagi siswa menunjuk pada dunia
minatnya (center of interest). Pelaksanaan pembelajaran harus
mengacu pada tujuan untuk mengembangkan potensi siswa melalui :
1)
Olah
hati, untuk
memperteguh keimanan dan ketakwaan, meningkatkan akhlak mulia, budi pekerti,
atau moral, membentuk kepribadian unggul, membangun kepemimpinan dan entrepreneurship.
2)
Olah
pikir untuk
membangun kompetensi dan kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi.
3)
Olah
rasa untuk
meningkatkan sensitifitas, daya apresiasi, daya kreasi, serta daya ekspresi
seni dan budaya.
4)
Olah raga untuk meningkatkan kesehatan,
kebugaran, daya tahan, dan kesiapan fisik serta ketrampilan kinestetis.
(Renstra Depdiknas Tahun 2005 2009, 2005: 15).
Renstra ini menunjukkan bahwa pendidikan jasmani dan olahraga (penjasor) merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan.
Renstra ini menunjukkan bahwa pendidikan jasmani dan olahraga (penjasor) merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan.
Menurut Sukintaka (2004) penjasor
adalah proses interaksi antara peserta didik dan lingkungan melalui aktivitas
jasmani yang disusun secara sistematik untuk menuju manusia Indonesia
seutuhnya. Istilah penjasor mengandung dua makna, pertama, pendidikan untuk
jasmani, kedua, pendidikan melalui aktivitas jasmani (Wuest and Bucher, 1995:
125). Pendidikan untuk jasmani lebih fokus pada pengembangan fisik dan
keterampilan siswa, dengan memakai sarana cabang-cabang olahraga untuk mencapai
tujuan penjas. Fungsi olahraga sebagai salah satu sarana yang dipakai untuk
melaksanakan proses penjasor. Selain itu, olahraga berfungsi sebagai sarana
untuk (1) penyaluran emosi, (2) penguatan identitas, (3) kontrol sosial, (4)
sosialisasi, (5) agen perubahan, (6) penyaluran kata hati, dan (7) mencapai
keberhasilan (Wuest and Bucher, 1995: 248-249). Dengan demikian penjasor
merupakan proses pendidikan melalui aktivitas jasmani dan olahraga sebagai
sarana untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum.
Selanjutnya, pendidikan melalui
aktivitas jasmani bermakna bahwa dalam mencapai tujuan pendidikan sarana yang
dipakai melalui aktivitas jasmani. Secara konsisten penjasor memberikan efek
yang menguntungkan terhadap kesehatan jasmani dan rohani pelakunya (Kirk,
Macdonald, O'Sullivan, 2006: 145). Aktivitas jasmani secara personal dapat
mengontrol, meningkatkan sifat emosional yang positif, dan meminimalkan dampak
yang negatif bagi pelakunya. Selanjutnya, penjasor merupakan salah satu proses
pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan mengembangkan
kemampuan siswa melalui aktivitas jasmani yang dipilihnya (Wuest and Bucher,
1995: 6-7). Artinya, fokus penjasor adalah pada pencapaian tujuan pendidikan
secara umum, yaitu untuk membentuk sikap, kepribadian, perilaku sosial, dan
intelektual siswa melalui aktivitas jasmani.
Diharapkan melalui aktivitas jasmani
dapat meningkatkan dan memperhalus keterampilan gerak, meningkatkan kebugaran
jasmani dan memelihara kesehatan, memiliki pengetahuan tentang aktivitas fisik
dan latihan, menanamkan sikap yang positif bahwa aktivitas jasmani dapat
meningkatkan kinerja siswa. Untuk itu, penjasor sebagai bagian dari proses
pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani harus direncanakan secara
sistematik untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara neuromuskuler,
organik, perseptual, kognitif, sosial, dan emosional dalam sistem pendidikan
nasional (Depdiknas, 2003: 6).
Tujuan penjasor di sekolah untuk
meletakkan dan mengembangkan (1) landasan karakter melalui internalisasi nilai,
(2) landasan kepribadian (cinta damai, sosial, toleransi dalam kemajemukan
budaya etnis dan agama), (3) berpikir kritis, (4) sikap sportif, jujur,
disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis, (5)
keterampilan gerak, teknik, strategi berbagai permainan dan olahraga, senam,
aktivitas ritmik, akuatik dan pendidikan luar kelas, (6) keterampilan
pengelolaan diri, pemeliharaan kebugaran jasmani dan pola hidup sehat, (7)
keterampilan menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain, (8) konsep
aktivitas jasmani untuk mencapai kesehatan, kebugaran dan pola hidup sehat,
serta (9) mengisi waktu luang yanq bersifat rekreatif (Depdiknas, 2003: 6-7).
Penjasor memberikan kontribusi yang
baik bagi kehidupan manusia terhadap organ biologik, psikomotorik, afektif, dan
kognitif pelakunya.Selain itu, penjasor mampu mengembangkan pola hidup yang
sehat dan aman, serta memiliki peran penting dalam mempengaruhi pola aktivitas
dan kesehatan individu maupun masyarakat (Whitehead, 2001: 8).Sejalan dengan
itu, maka fungsi penjasor di sekolah adalah untuk meningkatkan aspek (1)
organik, (2) neuromuskuler, (3) perseptual, (4) kognitif, (5) sosial, dan (6)
emosional siswa (Depdiknas, 2003: 7-9). Sebagai bagian integral dari proses
pendidikan secara umum, maka hendaknya penjasor dapat memberikan kesempatan
kepada siswa untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui
aktivitas jasmani, bermain dan olahraga yang dilakukan secara sistematis. Dari
pengalaman belajar tersebut akan membina dan membentuk gaya hidup sehat dan
aktif sepanjang hayat, yang pada akhirnya melalui penjasor diharapkan siswa
akan memiliki pemahaman tentang (1) dirinya dan orang lain untuk terus
mengembangkan diri dan berhubungan dengan orang lain, (2) nilai-nilai sosial
dan keterampilan agar efektif dalam partisipasi, (3) budaya dan mampu menilai,
(4) peran dan terampil.
Menurut Aip Syarifuddin (1992:
8-14), pendidikan jasmani dapat berperan, antara lain: (1) pembentukan tubuh
yaitu dengan melakukan pendidikan jasmani yang teratur, maka organ tubuh pun
akan bekerja sebagaimana mestinya sesuai dengan fungsinya, hal ini akan
berpengaruh terhadap kesehatan baik jasmani maupun rohani; (2) pembentukan
prestasi yaitu dengan ditanamkannya pembentukan prestasi diharapkan dapat
mengembangkannya serta dapat mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi baik
bagi dirinya sendiri maupun bagi kelompok dilingkungannya; (3) pembentukan
sosial yaitu melalui pendidikan jasmani anak akan mendapatkan bimbingan
pergaulan hidup yang sesuai dengan norma dan ketentuan dengan unsur-unsur
sosial; (4) keseimbangan mental, di mana pemupukan terhadap kestabilan emosi
anak akan diperoleh secara efektif melalui pengalaman langsung dalam dunia
kenyataan, karena mereka terjun langsung di lapangan dalam suasana yang penuh
rangsangan; (5) meningkatkan kecepatan proses berpikir di mana dalam pendidikan
jasmani anak dituntut untuk memiliki daya sensitifitas yang tinggi terhadap
situasi yang dihadapinya. Mereka dituntut untuk memiliki kecepatan dalam proses
berpikir dan kemampuan pengambilan keputusan dengan cepat dan tepat agar tidak
tertinggal dengan lawannya; (6) pembentukan kepribadian anak di mana pendidikan
jasmani berperan sebagai sarana untuk membentuk dan mengembangkan sifat-sifat
kepribadian anak secara positif.
2.3 Strategi Internalisasi Nilai Olahraga
melalui Pembelajaran
Internalisasi
nilai-nilai olahraga melalui pembelajaran dapat dilakukan dengan beberapa cara:
a. Menyusun Peraturan Kelas Olahraga (Sport
Class Rules)
Pada awal tahun ajaran baru siswa
diminta menyusun peraturan kelas. Peraturan kelas merupakan sarana untuk bagi
siswa juga untuk menciptakan kelas yang kondusif dan tertib. Peraturan tidak
hanya dipatuhi oleh siswa namun para guru juga harus memiliki peraturan
tersebut. Oleh karena itu, peraturan harus dibuat dan disepakati bersama oleh
siswa dan guru.
Sebelum menyusun peraturan kelas
siswa diminta berdiskusi untuk menentukan nilai-nilai olahraga yang harus
disepakati bersama. Nilai-nilai olahraga dimasukkan dalam peraturan kelas
dengan rumusan kalimat yang baik dan komunikatif. Siswa diminta menuangkan
peraturan kelas olahraga ke dalam poster yang ditulis dan didekorasi secara
indah. Siswa selanjutnya menempelkan poster tersebut dan membaca bersama. Secara
periodik guru mengingatkan siswa untuk selalu mentaati peraturan kelas
tersebut.
Prinsip-prinsip penting dalam
membuat peraturan kelas diantaranya:
1) Peraturan hendaknya ditulis dengan
kalimat yang positif.
Kalimat
positif misalnya `Siswa wajib mematuhi aturan` lebih baik daripada
kalimat negatif `siswa dilarang melanggar aturan`.
2) Peraturan disusun secara efektif.
Kalimat
disusun secara efektif, hindarkan kalimat yang bertele-tele.
3) Peraturan harus memuat konsekuensi
dan sanksi.
Peraturan
tanpa sanksi biasanya kurang efektif, namun sanksi haruslah bersifat positif
dan tidak boleh sanksi fisik.
Penyusunan peraturan kelas mendorong
individu siswa mengembangkan nilai-nilai olahraga yang baik. Guru pendidikan
jasmani berperan sebagai motivator untuk menciptakan situasi dan menginspirasi
peserta didik untuk menampilkan perilakumoral dan memberikan teladan dalam
menerapkan nilai-nilai olahraga. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Willian
Arthur A mediocre teacher tells, a good teacher explains, a
superior teacher demonstrates, and the great teacher inspires. (https://www.goodreads.com/author/quotes/416931.William_Arthur_Ward). Seorang guru biasa-biasa
saja mengatakan, seorang guru yang baik menjelaskan,
guru yang unggul menunjukkan, dan guru besar menginspirasi.
Penyusunan peraturan kelas juga
melatih siswa untuk mengambil keputusan. Keterlibatan siswa secara aktif dan
partisipatif akan menciptakan pembelajaran yang efektif. Selanjutnya dalam
pelaksanaan peraturan kelas tersebut siswa akan mendapatkan pengalaman untuk
mengevaluasi diri maupun teman sebaya.
b. Internalisasi Nilai-nilai Olahraga
melalui Diskusi
Secara sederhana pembelajaran dideskripsikan sebagai
berikut:
1. Deskripsi materi pembelajaran:
Menginvestigasi
dan mengidentifikasi nilai-nilai olahraga. Siswa menginvestigasi dan
mengidentifikasi nilai-nilai olahraga dan merefleksikan pengalaman mereka:
·
Siswa
akan merefleksikan praktek olahraga secara umum dan pribadi
·
Siswa
akan menyusun daftar nilai-nilai olahraga.
·
Siswa
akan berpartisipasi dalam permainan dan merenungkan sejauh mana mereka telah
menerapkan nilai-nilai tersebut.
2. Diskusi kelas:
Guru
menyajikan video, siswa berdiskusi secara interaktif dan mengungkapkan pendapat
mereka tentang hal yang mereka temukan dalam video. Melalui diskusi siswa dapat
mengidentifikasi perilaku pelaku olahraga yang tidak baik dan mengungkapkan
perliku yang baik yang seharusnya dilakukan. Bermacam-macam video dapat
ditayangkan misalnya:
·
tentang
seorang pemain tenis berteriak karena menang dan melemparkan raket
·
tentang
sepak bola gajah
·
tentang
pemain yang menggunakan obat
3. Internalisasi Nilai-nilai Olahraga
melalui Pembiasaan
Pembiasaan
merupakan strategi yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai olahraga,
misalnya: berjabat tangan dengan lawan main sebelum dan setelahbertanding,
peduli kepada teman yang ingin mempelajari keterampilan olahraga tertentudengan
cara memberikan mentoring, bekerjasama untuk mencapai tujuan (goal),
bermaindengan berpegang pada aturan, menghormati keputusan wasit, dan
sebagainya.
4. Integrasi Nilai-nilai Olahraga
melalui Materi Pembelajaran
Penanaman
nilai-nilai olahraga harus diterapkan melalui praktek sehari-hari, misalnya
seperti pada tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Contoh Strategi
Internalisasi Nilai-nilai Olahraga dalam Materi Pembelajaran
|
Materi
|
Strategi
|
|
·
Mempraktikkan berbagai keterampilan
permainan olahraga dengan teknik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
|
·
Mempraktikkan
keterampilan teknik bermain salah satu permainan olahraga bola besar secara
sederhana serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat dan
percaya diri
·
Mempraktikkan
keterampilan teknik bermain salah satu permainan olahraga bola kecil secara
sederhana serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, kerja keras
dan percaya diri
·
Mempraktikkan
keterampilan teknik salah satu nomor atletik dengan menggunakan peraturan
yang dimodifikasi serta nilai kerjasama, kejujuran, kerja keras dan
percaya diri
|
|
Materi
|
Strategi
|
|
·
Mempraktikkan
aktivitas ritmik menggunakan alat dengan koordinasi dan nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya
|
·
Mempraktikan
keterampilan aktivitas ritmik tanpa alat dengan koordinasi gerak lanjutan
serta nilai kedisiplinan,
konsentrasi dan keluwesan, dan estetika
|
|
·
Mempraktikkan
salah satu gaya renang dan loncat indah dan nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya
|
·
Mempraktikkan
keterampilan salah satu gaya renang untuk pertolongan serta nilai disiplin, keberanian, kerja sama, dan
kerja keras.
|
|
·
Mempraktikkan
keterampilan permainan olahraga dengan peraturan yang sebenarnya dan
nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
|
·
Mempraktikkan
keterampilan bermain salah satu permainan olahraga bola besar lanjutan dengan
peraturan yang sebenarnya serta nilai kerjasama, kejujuran, menerima kekalahan, kerja keras dan percaya diri
·
Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan olahraga bola
kecil lanjutan dengan peraturan sebenarnya serta nilai kerjasama, kejujuran, menerima kekalahan kerja keras dan percaya
diri
·
Mempraktikkan
keterampilan atletik lanjutan dengan menggunakan peraturan yang
sebenarnyaserta nilai kerjasama,
kejujuran, menerima kekalahan, kerja keras dan percaya diri
·
Mempraktikkan
keterampilan bela diri lanjutan secara berpasangan dengan menggunakan
peraturan yang sebenarnya serta nilai
kerjasama, kejujuran, menerima kekalahan kerja keras dan percaya diri
|
5. Internalisasi Nilai-nilai Olahraga
melalui Keteladanan
Guru
harus memberikan keteladanan atau model perilaku moral. Guru adalah role-model yang
menunjukkan perilaku yang memiliki dampak yang lebih kuat daripada berkata kata
tentang moral. Ada pepatah satu tindakan lebih baik dari seribu kata.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Belakangan
ini prestasi olahraga nasional semain terpuruk. Keterpurukan prestasi ini
diperburuk dengan berbagai krisis dan distorsi olahraga yang terjadi. Krisis
dan distorsi olahraga terjadi akibat kurangnya penerapan nilai-nilai olahraga
oleh pelaku olahraga. Untuk mengatasi hal ini maka perlu dikuatkan lagi
penanaman nilai-nilai olahraga bagi pelaku olahraga nasional.
Pendidikan
jasmani olahraga mempunyai peran yang sangat penting untuk pelaksanaan
internalisasi nilai-nilai olahraga. Internalisasi nilai-nilai olahraga dapat
dilakukan melalui beberapa strategi antara lain : 1) Menyusun Peraturan Kelas
Olahraga(Sport Class Rules), 2) Diskusi kelas penyusunan peraturan kelas, 3)Internalisasi
Nilai-nilai Olahraga melalui Pembiasaan, 4) Integrasi Nilai-nilai Olahraga
melalui Materi Pembelajaran, 5) Internalisasi Nilai-nilai Olahraga melalui
Keteladanan.
Keberhasilan
internalisasi nilai-nilai olahraga untuk membentuk karakter siswa sangat
tergantung pada peran guru. Semoga melalui kontribusi guru dalam internalisasi
nilai-nilai olahraga prestasi olah raga nasional akan meningkat bahkan bisa
muncul di permukaan internasional.
3.2 Saran
Demikianlah
pokok bahasan makalah ini yang dapat kami paparkan, Besar harapan kami makalah
ini dapat bermanfaat untuk kalangan banyak. Karena keterbatasan pengetahuan dan
referensi, Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, Oleh karena
itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar makalah ini dapat
disusun menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang.
DAFTAR
PUSTAKA
Ary Ginanjar. (2008)! `Pembentukan
Habit menerapkan Nilai-nilai religius, Sosial, dan Akademik`, 29 -31 Juli 2008.
Semiloka Pendidikan Karakter. Yogyakarta: UNY
Aip Syarifuddin dan Muhadi. (1992).
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Depdikbud.
Lickona, T. 1991. Educating for
Character. New York: Bantam Books
Merie Helen. 2002. The Olympic
Games. Salt Lake City: Departement of Communication.
Maksum, A. 2007. Psikologi Olahraga:
Teori dan Aplikasi. Surabaya: Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri
Surabaya.
Maksum, A. 2005. Olahraga Membentuk
Karakter: Fakta atau Mitos. Jurnal Ordik, Edisi April Vol. 3, No. 1/2005.
Maksum, A. 2002. Reaktualisasi
Gagasan Baron Pierre de Coubertin dalam Konteks Olahraga Kekinian: Mengkaji
Ulang Hasil Akademi Olimpik ke-5 di Kuala Lumpur, 1-5 April 2002.
Siedentop, D. 1994. Physical
Education Introductory Analysis. New York: Wn. C. Brown Company Publiser
Renstra Depdiknas Tahun 2005
2009, 2005: 15).
Sukintaka. (2004). Teori Pendidikan
Jasmani: FHosofi, Pembelajaran dan Masa Depan. Bandung: Penerit Nuansa.
Wuest, Deborah A., and Bucher,
Charles A. (1995). Foundations of Physical Education and Sport, 12th ed. St.
Louis, Missouri: Mosby-Year Book, Inc.
Whitehead, M. (2001). The Concepts
of Physical Literacy. The British Journal of Teaching Physical Education,
Spring 2001: 6-8.
------. 2006. Values Education for
Australian Schooling: Well played! Commonwealth of Australia
http://www.foxsportspulse.com/assoc_page.cgi?c=1-3653-0-0-0&sID=138368 tentang The Olympic Values
Tidak ada komentar:
Posting Komentar